Sabtu, 09 Maret 2013

Konsep Budaya


Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.

Dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan terbatas pada segala sesuatu yang indah misalnya candi-candi, tarian , seni rupa, seni suara , kesastraan dan filsafat . Sedangkan menurut antropologi “Kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar”. Dengan demikian hampir semua tindakan manusia adalah kebudayaan karena jumlah tindakan yang dilakukannya dalam kehidupan bermasyarakat yang tidak dibiasakannya denagn belajar(yaitu tindakan naluri, refleks dan tindakan-tindakan yang dilakukan akibat suatu proses fisiologi, maupun tindakan membabi buta), sangat terbatas.Bahkan berbagai tindakan yang merupakan nalurinya (misalnya makan, minum, dan berjalan) juga telah banyak dirombak oleh manusia sendiri sehingga menjadi tindakan kebudayaan. Manusia makan pada waktu tertetu yang dianggap wajar dan pantas ; ia makan dan minum dengan menggunakan alat-alat, cara-cara serta sopan santun atau protokol yang kadang-kadang sangat rumit yang harus dipelajari dengan susah payah. Berjalan pun tidak dilakukannya lagi dengan wujud organismenya yang telah ditentukan oleh alam, karena gaya berjalan itu sudah disesuaikan dengan berbagai gaya berjalan yang harus dipelajarinya terlebih dahulu misalnya gaya berjalan seorang prajurit atau peragawati atau gaya berjalan yang lemah lembut.
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat . Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward B. Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Wujud gagasan dari kebudayaan dan tempatnya adalah dalam kepala tiap individu warga kebudayaan yang bersangkutan yang dibawanya kemanapun ia pergi yang bersifat abstrak dan tidak dapat difoto tetapi hanya dapat diketahui dan dipahami setelah ia pelajari dengan mendalam baik melalui wawancara intensif maupun membaca . Kebudayaan dalam wujud gagasan juga berpola dan berdasarkan sistem-sistem tertentu disebut “Sistem Budaya”
Sistem budaya merupakan komponen dari kebudayaan yang bersifat abstrak dan terdiri dari pikiran-pikiran , gagasan-gagasan, konsep-konsep, tema-tema berpikir, serta keyakinan-keyakinan. Dengan demikian suatu sistem budaya merupakan bagian dari kebudayaan, yang dalam bahasa Indonesia lebih lazim disebut “adat-istiadat”. Dalam adat-istiadat ada nilai budayanya dan juga sistem normanya (yang secara khusus dapat dirinci lagi kedalam berbagai norma sesuai dengan pranata-pranata yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan ). Fungsi dari sistem budaya adalah menata serta menetapkan tindakan-tindakan dan tingkah laku manusia.
Wujud tingkah laku manusia seperti menari, berbicara dan tingkah laku dalam mengerjakan suatu pekerjaan masih bersifat konkret dapat difoto dan difilm. Semua gerak-gerik yang dilakukan dari masa kemasa, hari kehari merupakan pola tingkah laku yang dilakukan berdasarkan sistem. Karena itu pola-pola tingkah laku manusia disebut “Sistem Sosial”.
Sistem sosial terdiri dari aktivitas-aktivitas atau tindakan-tindakan berinteraksi antarindividu yang dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai tindakan-tindakan berpola yang saling berkaitan, sistem sosial lebih konkret dan nyata sifatnya daripada sistem budaya sehingga semuanya dapat dilihat dan diobservasi. Interaksi manusia di satu pihak ditata dan diatur oleh sistem budaya dan disisi lain dibudayakan menjadi pranata-pranata oleh nilai-nilai dan norma-norma tersebut.
Walaupun integrasi sosial tidak pernah dapat dicapai dengan sempurna namun secara fundamental sistem sosial selalu cendrung bergerak ke arah ekuilibrium yang bersifat dinamis : menanggapi perubahan-perubahan dari luar dengan kecendrungan memelihara agar perubahan yang terjadi didalam sistem hanya mencapai derajat minimalnya saja,akan tetapi setiap sistem sosial akan berproses kearah situ. Pada umumnya perubahan yang terjadi secara gradual, melalui penyesuaian dan tidak secara revolusioner.
Perubahan yang secara drastis biasanya hanya mengenai bentuk luarnya saja, sedangkan unsur-unsur sosial budaya yang menjadi bangunan dasarnya hanya mengalami sedikit perubahan. Perubahan itu timbul karena beberapa kemungkinan diantaranya penyesuian-penyesuaian yang dilakukan oleh sistem sosial tersebut terhadap perubahan yang datang dari luar, perubahan melalui proses diferensiasi struktural dan fungsional, serta penemuan-penemuan baru oleh anggota masyarakat. Jadi suatu sistem sosial terbentuk dari interaksi sosial yang tumbuh dan berkembang diatas standar penilaian umum yang disepakati bersama oleh anggota masyarakat.
 Sumber :
Pengantar Antropologi, Koentjaraningrat
Sistem Sosial Indonesia, Nasikun
dll,

0 komentar:

Posting Komentar

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com